Pages
Total Pengunjung
Property of I-Hikmah . Diberdayakan oleh Blogger.
Labels
- Adab Dan Akhlak (13)
- Amalan Bulanan (8)
- Aqidah (13)
- Belajar Islam (27)
- Berita (1)
- Bersih Jiwa (9)
- Do'a dan Wirid (3)
- Faedah (1)
- Fiqih (16)
- Fiqih Kontemporer (2)
- Hukum Islam (2)
- Keluarga (18)
- Khutbah Jum'at (2)
- Kisah (1)
- Lain Lain (10)
- Manajemen Kalbu (14)
- Manhaj (9)
- Motivasi (10)
- Muamalah (7)
- Mukzizat Qur'an dan Sunnah (1)
- Mutiara Hadis (4)
- Nasihat (17)
- Pengetahuan Umum (4)
- Penyakit Hati (6)
- Perkataan Ulama (2)
- Sholat (2)
- Status Facebook (2)
- Syair (1)
- Tafsir (1)
- Tanya Jawab (4)
- Tauhid (1)
- Thibun Nabawi (1)
- Wanita (26)
About Me
Followers
Tampilkan postingan dengan label Mutiara Hadis. Tampilkan semua postingan
Mari Bershalawat
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
أَتَانِيْ آتٍ مِنْ عِنْدِ رَبِّي عَزَّ وَ جَلَّ فَقَالَ : مَنْ صَلَّى عَلَيْكَ مِنْ أُمَّتِكَ صَلَاةً كَتَبَ اللهُ لَهُ بِهَا عَشْرَ حَسَنَاتٍ وَ مَحَا عَنْهُ عَشْرَ سَيِّئَاتٍ وَ رَفَعَ لَهُ عَشْرَ دَرَجَاتٍ وَ رَدَّ عَلَيْهِ مِثْلَهَا .
“Telah datang kepadaku malaikat dari sisi Rabbku ‘Azza wa Jalla, lalu ia berkata: “Barang siapa dari umatmu yang bershalawat kepadamu sekali, Allah akan tuliskan untuknya sepuluh kebaikan, di hapus darinya sepuluh keburukan, diangkat untuknya sepuluh derajat dan dijawab kepadanya seperti apa yang ia ucapkan”. (HR Ahmad dari Abu Thalhah).[1]
Allah Ta’ala dan malaikatNya bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan memerintahkan kaum mukminin untuk bershalawat dan mengucapkan salam kepada beliau. Allah Ta’ala berfirman:
“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya”. (Al Ahzab: 56).
Malaikat Jibril mendoakan kecelakaan kepada hamba yang disebutkan nama beliau namun tidak bershalawat kepadanya, dan diaminkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau bersabda:
شَقِيَ عَبْدٌ ذُكِرْتَ عِنْدَهُ وَلَمْ يُصَلِّ عَلَيْكَ فَقُلْتُ آمِيْنَ
“Semoga celaka seorang hamba yang namamu disebut di sisinya namun ia tidak bershalawat kepadamu.” Beliau bersabda, “Amiin.” (HR Al Bukhari dalam kitab Al Adabul Mufrod).[2]
Bahkan beliau menganggapnya sebagai orang yang bakhil.
الْبَخِيلَ مَنْ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيَّ.
“Orang bakhil adalah orang yang apabila disebutkan namaku di sisinya, ia tidak bershalawat kepadaku.” (HR An Nasai, At Tirmidzi dan lainnya).[3]
Sesungguhnya banyak bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam akan mengampuni dosa dan mencukupi keinginan. Dalam hadits:
وعن أُبَيِّ بن كعبٍ – رضي الله عنه – : كَانَ رسول الله – صلى الله عليه وسلم – إِذَا ذَهَبَ ثُلُثُ اللَّيْلِ قَامَ ، فَقَالَ : (( يَا أَيُّهَا النَّاسُ ، اذْكُرُوا اللهَ ، جَاءتِ الرَّاجِفَةُ ، تَتْبَعُهَا الرَّادِفَةُ ، جَاءَ المَوْتُ بِمَا فِيهِ ، جَاءَ المَوْتُ بِمَا فِيهِ )) قُلْتُ : يَا رسول الله ، إنِّي أُكْثِرُ الصَّلاَةَ عَلَيْكَ ، فَكَمْ أجْعَلُ لَكَ مِنْ صَلاَتِي ؟ فَقَالَ : (( مَا شِئْتَ )) قُلْتُ : الرُّبُع ، قَالَ : (( مَا شِئْتَ ، فَإنْ زِدْتَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكَ )) قُلْتُ : فَالنِّصْف ؟ قَالَ : (( مَا شِئْتَ ، فَإنْ زِدْتَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكَ )) قُلْتُ : فالثُّلُثَيْنِ ؟ قَالَ : (( مَا شِئْتَ ، فَإنْ زِدْتَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكَ )) قُلْتُ : أجعَلُ لَكَ صَلاَتِي كُلَّهَا ؟ قَالَ : (( إذاً تُكْفى هَمَّكَ ، وَيُغْفَر لَكَ ذَنْبكَ )) رواه الترمذي ، وقال : (( حديث حسن )) .
“Dari Ubayy bin Ka’ab radliyallahu ‘anhu berkata, “Apabila telah berlalu sepertiga malam, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri bersabda, “Wahai manusia, berdzikirlah kepada Allah. Telah dekat Ar Rajifah (tiupan sangkakala pertama) yang diikuti oleh Ar Radifah (Tiupan sangkakala kedua). Telah dekat kematian beserta kedahsyatannya, telah dekat kematian beserta kedahsyatannya.” Aku berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku sering bershalawat untukmu, lalu berapa banyak aku jadikan shalawatku untukmu dalam do’aku?” Beliau bersabda, “Terserah keinginanmu.” Aku berkata, “Seperempat?” beliau bersabda, “Terserah kamu, bila kamu tambahkan lebih baik lagi.” Aku berkata, “ Setengah?” Beliau bersabda, “Terserah kamu, bila kamu tambahkan lebih baik lagi.” Aku berkata, “Dua pertiga?” Beliau bersabda, “Terserah kamu, bila kamu tambahkan lebih baik lagi.” Aku berkata, “Bagaimana bila aku jadikan seluruh do’aku untukmu?” Beliau bersabda, “Kalau begitu akan dicukupi keinginanmu dan diampuni dosamu.” (HR At Tirmidzi dan berkata, “Hadits Hasan.”).[4]
Shalawat menjadikan sebuah majelis dirahmati oleh Allah dan pelakunya tidak akan menyesal pada hari kiamat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
مَا قَعَدَ قَوْمٌ مَقْعَدًا لاَ يَذْكُرُونَ فِيهِ اللَّهَ , عَزَّ وَجَلَّ , وَيُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى الله عَلَيه وسَلَّم إِلاَّ كَانَ عَلَيْهِمْ حَسْرَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ ، وَإِنْ دَخَلُوا الْجَنَّةَ لِلثَّوَابِ
“Tidaklah suatu kaum duduk dan tidak mengingat Allah Azza wa jalla dan tidak bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kecuali akan menjadi penyesalan bagi mereka pada hari kiamat, walaupun mereka masuk surga karena pahala.” (HR Ahmad dan Ibnu Hibban dari Abu Hurairah).[5]
Shalawat membuka hijab do’a seorang hamba kepada Allah, karena do’a yang tidak disebutkan padanya shalawat akan terhalang sebagaimana dalam hadits:
كُلُّ دُعَاءٍ مَحْجُوْبٌ حَتَّى يُصَلَّى عَلَى النَّبِيِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.
“Setiap do’a itu terhalang sampai bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.” (HR Ibnu Makhlad dari Ali bin Abi Thalib).[6]
Fadlalah bin ubaid Al Anshari radliyallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mendengar seseorang berdo’a dalam shalatnya, ia tidak memuji Allah dan tidak bershalawat untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau bersabda, “Orang ini tergesa-gesa.” Lalu beliau memanggilnya dan bersabda:
إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ فَلْيَبْدَأْ بِتَحْمِيدِ رَبِّهِ جَلَّ وَعَزَّ وَالثَّنَاءِ عَلَيْهِ ثُمَّ يُصَلِّى عَلَى النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- ثُمَّ يَدْعُو بَعْدُ بِمَا شَاءَ
“Apabila salah seorang dari kamu berdo’a, hendaklah ia memulai dengan memuji Rabbnya Azza wa Jalla dan menyanjungNya, kemudian bershalawat untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, kemudian berdo’a setelah itu dengan apa yang ia inginkan.” (HR Abu Dawud, At Tirmidzi dan lainnya).[7]
Kaidah yang harus kita ketahui dalam masalah shalawat adalah bahwa kita tidak diperkenankan bershalawat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan lafadz yang tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah. Dahulu para shahabat bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tentang lafadz shalawat:
عَنْ أَبِى مَسْعُودٍ الأَنْصَارِىِّ قَالَ أَتَانَا رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَنَحْنُ فِى مَجْلِسِ سَعْدِ بْنِ عُبَادَةَ فَقَالَ لَهُ بَشِيرُ بْنُ سَعْدٍ أَمَرَنَا اللَّهُ تَعَالَى أَنْ نُصَلِّىَ عَلَيْكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَكَيْفَ نُصَلِّى عَلَيْكَ قَالَ فَسَكَتَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- حَتَّى تَمَنَّيْنَا أَنَّهُ لَمْ يَسْأَلْهُ ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قُولُوا « اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ فِى الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ. وَالسَّلاَمُ كَمَا قَدْ عَلِمْتُمْ
“Dari Abu mas’ud Al Anshari berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mendatangi kami yang sedang berada di majelis Sa’ad bin Ubadah. Basyir bin Sa’ad berkata, “Allah telah memerintahkan kami untuk bershalawat kepada engkau wahai Rasulullah, lalu bagaimana bershalawat kepadamu?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam diam hingga kami berharap ia tidak bertanya kepadanya. Kemudian beliau bersabda, “Ucapkanlah: Allahumma Shalli ‘alaa Muhammad wa ‘alaa aali Muhammad kamaa shollaita ‘alaa aali Ibrahin wa baarik ‘alaa Muhammad wa ‘alaa aali Muhammad kamaa baarakta ‘alaa aali Ibraahim fil’aalamiina innaka hamiidun majiid.” Adapun salam sebagaimana yang telah kamu katahui.” (HR Muslim).
Lihatlah para shahabat bertanya kepada Rasulullah tentang shalawat, padahal mereka adalah kaum yang sangat fasih bahasa arabnya, mereka mampu menggubah sya’ir yang indah untuk bershalawat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Ini menunjukkan bahwa lafadz shalawat bersifat tauqifiyah artinya harus menunggu dalil dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan tidak boleh membuat buat sendiri shalawat yang tidak diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.
Ada beberapa lafadz shalawat yang diajarkan oleh nabi shallallahu ‘alaihi wasallam[8]:
1 – ( اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَعَلَى أَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّتِهِ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَّجِيْدٌ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ بَيْتِهِ وَعَلَى أَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّتِهِ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ ) (رواه أحمد والطحاوي بسند صحيح )
2 – ( اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى [ إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى ] آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى [ إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى ] آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ ) ( البخاري ومسلم )
3 – اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ [ وَآلِ إِبْرَاهِيْمَ ] إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى [ إِبْرَاهِيْمَ ] وَآلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ ) (رواه أحمد والنسائي وأبو يعلى )
4 – ( اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ [ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ ] وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى [ آلِ ] إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ [ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ ] وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى [ آلِ ] إِبْرَاهِيْمَ فِي الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ ) (رواه مسلم وأبو عوانة )
5- ( اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى [ آلِ ] إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ [ عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ ] [ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ ] كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ [ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ ] ) (رواه البخاري والنسائي والطحاوي وأحمد )
6- اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ (عَلَى) أَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّتِهِ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى (آلِ) إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ (عَلَى) أَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّتِهِ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى (آلِ) إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. (رواه البخاري ومسلم والنسائي)
7- اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ وَبَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَ آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. (رواه النسائي)
Tempat dan waktu bershalawat.
Bershalawat kepada Rasulullah amat dianjurkan pada keadaan-keadaan berikut:
1. Di hari jum’at.
Dari Aus bin Aus berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
إِنَّ مِنْ أَفْضَلِ أَيَّامِكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فِيهِ خُلِقَ آدَمُ وَفِيهِ قُبِضَ وَفِيهِ النَّفْخَةُ وَفِيهِ الصَّعْقَةُ فَأَكْثِرُوا عَلَىَّ مِنَ الصَّلاَةِ فِيهِ فَإِنَّ صَلاَتَكُمْ مَعْرُوضَةٌ عَلَىَّ ». قَالَ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَكَيْفَ تُعْرَضُ صَلاَتُنَا عَلَيْكَ وَقَدْ أَرِمْتَ يَقُولُونَ بَلِيتَ. فَقَالَ « إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ حَرَّمَ عَلَى الأَرْضِ أَجْسَادَ الأَنْبِيَاءِ ».
“Sesungguhnya diantara hari yang paling utama adalah hari jum’at; di hari tersebut Adam diciptakan dan dicabut nyawanya. Di hari itu terjadi tiupan sangkakala dan manusia jatuh tersungkur. Maka perbanyaklah bershalawat kepadaku pada hari tersebut, karena shalawat kalian akan ditampakkan kepadaku.” Mereka berkata, “Bagaimana akan ditampakkan kepadamu sementara engkau telah menjadi tulang belulang?” beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla mengharamkan atas bumi untuk memakan jasad para Nabi.” (HR Abu dawud).[9]
2. Setelah mendengarkan adzan.
Dari Abdullah bin Amru bin Al ‘Ash bahwa ia mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
إِذَا سَمِعْتُمُ الْمُؤَذِّنَ فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ ثُمَّ صَلُّوا عَلَىَّ فَإِنَّهُ مَنْ صَلَّى عَلَىَّ صَلاَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا
“Apabila kamu mendengar muadzin maka ucapkanlah seperti apa yang diucapkan oleh muadzin kemudian bershalawatlah kepadaku karena orang yang bershalawat kepadaku sekali maka Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali.” (HR Muslim).
3. Masuk masjid.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
إِذَا دَخَلَ أَحَدُكُمُ الْمَسْجِدَ فَلْيُصَلِّ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ وَ لْيَقُلْ : اللَّهُمَّ افْتَحْ لِيْ أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ وَ إِذَا خَرَجَ فَلْيُسَلِّمْ عَلَى النَّبِيِّ وَ لْيَقُلْ : اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ
“Apabila salah seorang dari kamu hendak masuk masjid, hendaklah ia bershalawat atas nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan mengucapkan: “Allahummaftahlii abwaaba rohmatika” (Ya Allah, bukakanlah untukku pintu rahmatMu). Dan apabila hendak keluar maka ucapkanlah: “Allahumma inni as-aluka min fadllika” (Ya Allah aku memohon karuniaMu).” (HR Ahmad dan Muslim dari Abu Humaid).[10]
4. Ketika berdo’a.
Karena do’a akan terhalang bila tidak bershalawat, sebagaimana dalam hadits lalu:
كُلُّ دُعَاءٍ مَحْجُوْبٌ حَتَّى يُصَلَّى عَلَى النَّبِيِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.
“Setiap do’a itu terhalang sampai bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.” (HR Ibnu Makhlad dari Ali bin Abi Thalib).[11]
5. Tasyahud awal dan akhir.
Berdasarkan hadits Abu Mas’ud Uqbah bin Amru:
أَقْبَلَ رَجُلٌ حَتَّى جَلَسَ بَيْنَ يَدَىْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَنَحْنُ عِنْدَهُ فَقَالَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ أَمَّا السَّلاَمُ عَلَيْكَ فَقَدْ عَرَفْنَاهُ ، فَكَيْفَ نُصَلِّى عَلَيْكَ إِذَا نَحْنُ صَلَّيْنَا عَلَيْكَ فِى صَلاَتِنَا صَلَّى اللَّهُ عَلَيْكَ. قَالَ : فَصَمَتَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- حَتَّى أَحْبَبْنَا أَنَّ الرَّجُلَ لَمْ يَسْأَلْهُ ثُمَّ قَالَ :« إِذَا أَنْتُمْ صَلَّيْتُمْ عَلَىَّ فَقُولُوا : اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ النَّبِىِّ الأُمِّىِّ ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ النَّبِىِّ الأُمِّىِّ ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ ».
“Ada seseorang datang lalu duduk di hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sementara kami berada di sisinya. Ia berkata, “Wahai Rasulullah, kami telah mengetahui cara mengucapkan salam kepada engkau. Lalu bagaimana kami bershalawat kepadamu apabila apabila kami hendak membaca shalawat di dalam sholat kami? Semoga Allah bershalawat kepadamu.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam diam hingga kami suka kalau ia tidak bertanya demikian. Kemudian beliau bersabda, “Apabila kalian bershalawat kepadaku maka ucapkanlah: “Allahumma sholli ‘alaa Muhammadin Nabiyyil Umiyy… Alhadits (Lihat matan di atas). (HR Ahmad, ibnu Khuzaimah dan lainnya, dan di hasankan oleh Ad Daroquthni dalam sunannya).[12]
6. Shalat jenazah.
Berdasarkan perkataan seorang shahabat:
أَنَّ السُّنَّةَ فِى الصَّلاَةِ عَلَى الْجَنَازَةِ أَنْ يُكَبِّرَ الإِمَامُ ، ثُمَّ يَقْرَأُ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ بَعْدَ التَّكْبِيرَةِ الأُولَى سِرًّا فِى نَفْسِهِ ، ثُمَّ يُصَلِّى عَلَى النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- وَيُخْلِصُ الدُّعَاءَ لِلْجَنَازَةِ فِى التَّكْبِيرَاتِ لاَ يَقْرَأُ فِى شَىْءٍ مِنْهُنَّ ، ثُمَّ يُسَلِّمُ سِرًّا فِى نَفْسِهِ.
“Yang sunnah di dalam shalat janazah adalah imam bertakbir kemudian membaca al fatihah setelah takbir yang pertama secara pelan pada dirinya. Kemudian bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan mengikhlaskan do’a untuk jenazah pada takbir-takbir selanjutnya dan tidak membaca apa-apa. Kemudian mengucapkan salam secara pelan pada dirinya.” (HR Asy Syafi’i).[13]
7. Dalam khutbah.
Ibnu Qayyim dalam kitabnya Jalaa-ul afhaam (hal 526) setelah menyebutkan atsar-atsar dari shahabat berkata, “Ini menunjukkan bahwa bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihoi wasallam dalam khutbah adalah perkara yang masyhur di kalangan para shahabat.”
8. Dalam majelis.
Berdasarkan hadits yang telah berlalu:
مَا قَعَدَ قَوْمٌ مَقْعَدًا لاَ يَذْكُرُونَ فِيهِ اللَّهَ , عَزَّ وَجَلَّ , وَيُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى الله عَلَيه وسَلَّم إِلاَّ كَانَ عَلَيْهِمْ حَسْرَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ ، وَإِنْ دَخَلُوا الْجَنَّةَ لِلثَّوَابِ
“Tidaklah suatu kaum duduk dan tidak mengingat Allah Azza wa jalla dan tidak bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kecuali akan menjadi penyesalan bagi mereka pada hari kiamat, walaupun mereka masuk surga karena pahala.” (HR Ahmad dan Ibnu Hibban dari Abu Hurairah).[14]
9. Ketika disebut nama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.
Ini berdasarkan hadits yang telah kita sebutkan sebelumnya:
شَقِيَ عَبْدٌ ذُكِرْتَ عِنْدَهُ وَلَمْ يُصَلِّ عَلَيْكَ فَقُلْتُ آمِيْنَ
“Semoga celaka seorang hamba yang namamu disebut di sisinya namun ia tidak bershalawat kepadamu.” Beliau bersabda, “Amiin.” (HR Al Bukhari dalam kitab Al Adabul Mufrod).[15]
Bahkan beliau menganggapnya sebagai orang yang bakhil.
الْبَخِيلَ مَنْ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيَّ.
“Orang bakhil adalah orang yang apabila disebutkan namaku di sisinya, ia tidak bershalawat kepadaku.” (HR An Nasai, At Tirmidzi dan lainnya).[16]
10. Disela-sela takbir dalam shalat ‘ied.
Dari ‘Alqamah bahwa Al Walid bin Uqbah keluar menuju Abdullah bin Mas’ud, Abu Musa dan Hudzaifah, ia berkata, “Sesungguhnya hari ‘ied telah dekat, bagaimana cara bertakbir padanya?” Abdullah bin Mas’ud berkata: “Mulailah dengan bertakbir sebagai pembuka shalatmu, lalu pujilah Rabbmu dan bershalawat kepada Nabi Muhammad. Kemudian kamu berdo’a dan bertakbir dan kamu lakukan lagi seperti tadi.. dan diakhir kisah tersebut disebutkan bahwa Abu Musa dan hudzaifah membenarkannya. (HR Al Baihaqi dalam sunannya 3/291).[17]
Walaupun ini adalah perkataan ibnu Mas’ud, namun disetujui oleh shahabat lainnya dan tidak diketahui adanya shahabat lain yang menyelisihi beliau. Oleh karena itu imam Al baihaqi setelah menyebutkan atsar tersebut berkata, “Ini adalah mauquf dari perkataan ibnu Mas’ud, namun kita mengikuti beliau dalam berdzikir di sela-sela takbir karena tidak ada riwayat dari shahabat lain yang menyelisihi beliau. Tetapi kita menyelisihi ibnu Mas’ud dalam jumlah takbir berdasarkan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan perbuatan penduduk makkah dan Madinah dan amalan kaum muslimin sampai hari ini.”[18]
[1] Dishahihkan oleh Syaikh Al AlBani dalam Shahih Jami’ non 57.
[2] Al Adabul Mufrod 1/224 no 644.
[3] Dishahihkan oleh Syaikh Al AlBani dalam Shahih Jami’ no 5189.
[4] Dihasankan oleh Syaikh Al Albani dalam silsilah shahihah no 954.
[5] Syaikh Al Albani berkata, “Shahih.” Lihat silsilah shahihah no 76.
[6] Dihasankan oleh Syaikh Al AlBani dalam silsilah shahihah no 2035.
[7] Lihat shahih Sunan Abi Dawud no 1331.
[8] Lihat sifat sholat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam hal 165-167 karya Syaikh Al AlBani.
[9] Sunan Abu Dawud (1/562 no 1533). Dishahihkan oleh Syaikh Al bani dalam Shahih Sunan Abu Dawud no 962.
[10] Shahih jami’ no 516.
[11] Dihasankan oleh Syaikh Al AlBani dalam silsilah shahihah no 2035.
[12] Lihat kitab Jalaa-ul Afhaam karya ibnu Qayyim hal 67 tahqiq Syaikh Masyhur Alu Salman.
[13] Asy Syafi’i dalam Al Umm (1/270). Namun di dalam sanadnya terdapat Mutharif bin Mazin, ia dianggap pendusta oleh Yahya bin Ma’in. Namun ibnul Jarud meriwayatkan dari jalan Abdrurrazzaq dari Ma’mar dari Az Zuhri dari Abu Umamah bin Sahl bin Hanif. Ini adalah sanad hyang shahih. Oleh karena itu Syaikh Al AlBani menshahihkannya dalam irwa-ul ghalil no 734.
[14] Syaikh Al Albani berkata, “Shahih.” Lihat silsilah shahihah no 76.
[15] Al Adabul Mufrod 1/224 no 644.
[16] Dishahihkan oleh Syaikh Al AlBani dalam Shahih Jami’ no 5189.
[17] Dihasankan oleh Syaikh Al Bani dalam shahih sunan Abi Dawud. Syaikh Masyhur berkata dalam tahqiq jalaa-ul afhaam (hal 228), “Sanadnya shahih, dan dishahihkan oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya dan As Sakhawi dalam Al Qoulul Badie’.
[18] Al Baihaqi, Sunan Kubro 3/291.
Tag :
Mutiara Hadis,
Mari Bershalawat
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
أَتَانِيْ آتٍ مِنْ عِنْدِ رَبِّي عَزَّ وَ جَلَّ فَقَالَ : مَنْ صَلَّى عَلَيْكَ مِنْ أُمَّتِكَ صَلَاةً كَتَبَ اللهُ لَهُ بِهَا عَشْرَ حَسَنَاتٍ وَ مَحَا عَنْهُ عَشْرَ سَيِّئَاتٍ وَ رَفَعَ لَهُ عَشْرَ دَرَجَاتٍ وَ رَدَّ عَلَيْهِ مِثْلَهَا .
“Telah datang kepadaku malaikat dari sisi Rabbku ‘Azza wa Jalla, lalu ia berkata: “Barang siapa dari umatmu yang bershalawat kepadamu sekali, Allah akan tuliskan untuknya sepuluh kebaikan, di hapus darinya sepuluh keburukan, diangkat untuknya sepuluh derajat dan dijawab kepadanya seperti apa yang ia ucapkan”. (HR Ahmad dari Abu Thalhah).[1]
Allah Ta’ala dan malaikatNya bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan memerintahkan kaum mukminin untuk bershalawat dan mengucapkan salam kepada beliau. Allah Ta’ala berfirman:
“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya”. (Al Ahzab: 56).
Malaikat Jibril mendoakan kecelakaan kepada hamba yang disebutkan nama beliau namun tidak bershalawat kepadanya, dan diaminkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau bersabda:
شَقِيَ عَبْدٌ ذُكِرْتَ عِنْدَهُ وَلَمْ يُصَلِّ عَلَيْكَ فَقُلْتُ آمِيْنَ
“Semoga celaka seorang hamba yang namamu disebut di sisinya namun ia tidak bershalawat kepadamu.” Beliau bersabda, “Amiin.” (HR Al Bukhari dalam kitab Al Adabul Mufrod).[2]
Bahkan beliau menganggapnya sebagai orang yang bakhil.
الْبَخِيلَ مَنْ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيَّ.
“Orang bakhil adalah orang yang apabila disebutkan namaku di sisinya, ia tidak bershalawat kepadaku.” (HR An Nasai, At Tirmidzi dan lainnya).[3]
Sesungguhnya banyak bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam akan mengampuni dosa dan mencukupi keinginan. Dalam hadits:
وعن أُبَيِّ بن كعبٍ – رضي الله عنه – : كَانَ رسول الله – صلى الله عليه وسلم – إِذَا ذَهَبَ ثُلُثُ اللَّيْلِ قَامَ ، فَقَالَ : (( يَا أَيُّهَا النَّاسُ ، اذْكُرُوا اللهَ ، جَاءتِ الرَّاجِفَةُ ، تَتْبَعُهَا الرَّادِفَةُ ، جَاءَ المَوْتُ بِمَا فِيهِ ، جَاءَ المَوْتُ بِمَا فِيهِ )) قُلْتُ : يَا رسول الله ، إنِّي أُكْثِرُ الصَّلاَةَ عَلَيْكَ ، فَكَمْ أجْعَلُ لَكَ مِنْ صَلاَتِي ؟ فَقَالَ : (( مَا شِئْتَ )) قُلْتُ : الرُّبُع ، قَالَ : (( مَا شِئْتَ ، فَإنْ زِدْتَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكَ )) قُلْتُ : فَالنِّصْف ؟ قَالَ : (( مَا شِئْتَ ، فَإنْ زِدْتَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكَ )) قُلْتُ : فالثُّلُثَيْنِ ؟ قَالَ : (( مَا شِئْتَ ، فَإنْ زِدْتَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكَ )) قُلْتُ : أجعَلُ لَكَ صَلاَتِي كُلَّهَا ؟ قَالَ : (( إذاً تُكْفى هَمَّكَ ، وَيُغْفَر لَكَ ذَنْبكَ )) رواه الترمذي ، وقال : (( حديث حسن )) .
“Dari Ubayy bin Ka’ab radliyallahu ‘anhu berkata, “Apabila telah berlalu sepertiga malam, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri bersabda, “Wahai manusia, berdzikirlah kepada Allah. Telah dekat Ar Rajifah (tiupan sangkakala pertama) yang diikuti oleh Ar Radifah (Tiupan sangkakala kedua). Telah dekat kematian beserta kedahsyatannya, telah dekat kematian beserta kedahsyatannya.” Aku berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku sering bershalawat untukmu, lalu berapa banyak aku jadikan shalawatku untukmu dalam do’aku?” Beliau bersabda, “Terserah keinginanmu.” Aku berkata, “Seperempat?” beliau bersabda, “Terserah kamu, bila kamu tambahkan lebih baik lagi.” Aku berkata, “ Setengah?” Beliau bersabda, “Terserah kamu, bila kamu tambahkan lebih baik lagi.” Aku berkata, “Dua pertiga?” Beliau bersabda, “Terserah kamu, bila kamu tambahkan lebih baik lagi.” Aku berkata, “Bagaimana bila aku jadikan seluruh do’aku untukmu?” Beliau bersabda, “Kalau begitu akan dicukupi keinginanmu dan diampuni dosamu.” (HR At Tirmidzi dan berkata, “Hadits Hasan.”).[4]
Shalawat menjadikan sebuah majelis dirahmati oleh Allah dan pelakunya tidak akan menyesal pada hari kiamat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
مَا قَعَدَ قَوْمٌ مَقْعَدًا لاَ يَذْكُرُونَ فِيهِ اللَّهَ , عَزَّ وَجَلَّ , وَيُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى الله عَلَيه وسَلَّم إِلاَّ كَانَ عَلَيْهِمْ حَسْرَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ ، وَإِنْ دَخَلُوا الْجَنَّةَ لِلثَّوَابِ
“Tidaklah suatu kaum duduk dan tidak mengingat Allah Azza wa jalla dan tidak bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kecuali akan menjadi penyesalan bagi mereka pada hari kiamat, walaupun mereka masuk surga karena pahala.” (HR Ahmad dan Ibnu Hibban dari Abu Hurairah).[5]
Shalawat membuka hijab do’a seorang hamba kepada Allah, karena do’a yang tidak disebutkan padanya shalawat akan terhalang sebagaimana dalam hadits:
كُلُّ دُعَاءٍ مَحْجُوْبٌ حَتَّى يُصَلَّى عَلَى النَّبِيِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.
“Setiap do’a itu terhalang sampai bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.” (HR Ibnu Makhlad dari Ali bin Abi Thalib).[6]
Fadlalah bin ubaid Al Anshari radliyallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mendengar seseorang berdo’a dalam shalatnya, ia tidak memuji Allah dan tidak bershalawat untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau bersabda, “Orang ini tergesa-gesa.” Lalu beliau memanggilnya dan bersabda:
إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ فَلْيَبْدَأْ بِتَحْمِيدِ رَبِّهِ جَلَّ وَعَزَّ وَالثَّنَاءِ عَلَيْهِ ثُمَّ يُصَلِّى عَلَى النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- ثُمَّ يَدْعُو بَعْدُ بِمَا شَاءَ
“Apabila salah seorang dari kamu berdo’a, hendaklah ia memulai dengan memuji Rabbnya Azza wa Jalla dan menyanjungNya, kemudian bershalawat untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, kemudian berdo’a setelah itu dengan apa yang ia inginkan.” (HR Abu Dawud, At Tirmidzi dan lainnya).[7]
Kaidah yang harus kita ketahui dalam masalah shalawat adalah bahwa kita tidak diperkenankan bershalawat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan lafadz yang tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah. Dahulu para shahabat bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tentang lafadz shalawat:
عَنْ أَبِى مَسْعُودٍ الأَنْصَارِىِّ قَالَ أَتَانَا رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَنَحْنُ فِى مَجْلِسِ سَعْدِ بْنِ عُبَادَةَ فَقَالَ لَهُ بَشِيرُ بْنُ سَعْدٍ أَمَرَنَا اللَّهُ تَعَالَى أَنْ نُصَلِّىَ عَلَيْكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَكَيْفَ نُصَلِّى عَلَيْكَ قَالَ فَسَكَتَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- حَتَّى تَمَنَّيْنَا أَنَّهُ لَمْ يَسْأَلْهُ ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قُولُوا « اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ فِى الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ. وَالسَّلاَمُ كَمَا قَدْ عَلِمْتُمْ
“Dari Abu mas’ud Al Anshari berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mendatangi kami yang sedang berada di majelis Sa’ad bin Ubadah. Basyir bin Sa’ad berkata, “Allah telah memerintahkan kami untuk bershalawat kepada engkau wahai Rasulullah, lalu bagaimana bershalawat kepadamu?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam diam hingga kami berharap ia tidak bertanya kepadanya. Kemudian beliau bersabda, “Ucapkanlah: Allahumma Shalli ‘alaa Muhammad wa ‘alaa aali Muhammad kamaa shollaita ‘alaa aali Ibrahin wa baarik ‘alaa Muhammad wa ‘alaa aali Muhammad kamaa baarakta ‘alaa aali Ibraahim fil’aalamiina innaka hamiidun majiid.” Adapun salam sebagaimana yang telah kamu katahui.” (HR Muslim).
Lihatlah para shahabat bertanya kepada Rasulullah tentang shalawat, padahal mereka adalah kaum yang sangat fasih bahasa arabnya, mereka mampu menggubah sya’ir yang indah untuk bershalawat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Ini menunjukkan bahwa lafadz shalawat bersifat tauqifiyah artinya harus menunggu dalil dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan tidak boleh membuat buat sendiri shalawat yang tidak diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.
Ada beberapa lafadz shalawat yang diajarkan oleh nabi shallallahu ‘alaihi wasallam[8]:
1 – ( اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَعَلَى أَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّتِهِ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَّجِيْدٌ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ بَيْتِهِ وَعَلَى أَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّتِهِ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ ) (رواه أحمد والطحاوي بسند صحيح )
2 – ( اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى [ إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى ] آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى [ إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى ] آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ ) ( البخاري ومسلم )
3 – اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ [ وَآلِ إِبْرَاهِيْمَ ] إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى [ إِبْرَاهِيْمَ ] وَآلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ ) (رواه أحمد والنسائي وأبو يعلى )
4 – ( اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ [ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ ] وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى [ آلِ ] إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ [ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ ] وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى [ آلِ ] إِبْرَاهِيْمَ فِي الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ ) (رواه مسلم وأبو عوانة )
5- ( اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى [ آلِ ] إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ [ عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ ] [ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ ] كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ [ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ ] ) (رواه البخاري والنسائي والطحاوي وأحمد )
6- اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ (عَلَى) أَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّتِهِ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى (آلِ) إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ (عَلَى) أَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّتِهِ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى (آلِ) إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. (رواه البخاري ومسلم والنسائي)
7- اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ وَبَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَ آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. (رواه النسائي)
Tempat dan waktu bershalawat.
Bershalawat kepada Rasulullah amat dianjurkan pada keadaan-keadaan berikut:
1. Di hari jum’at.
Dari Aus bin Aus berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
إِنَّ مِنْ أَفْضَلِ أَيَّامِكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فِيهِ خُلِقَ آدَمُ وَفِيهِ قُبِضَ وَفِيهِ النَّفْخَةُ وَفِيهِ الصَّعْقَةُ فَأَكْثِرُوا عَلَىَّ مِنَ الصَّلاَةِ فِيهِ فَإِنَّ صَلاَتَكُمْ مَعْرُوضَةٌ عَلَىَّ ». قَالَ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَكَيْفَ تُعْرَضُ صَلاَتُنَا عَلَيْكَ وَقَدْ أَرِمْتَ يَقُولُونَ بَلِيتَ. فَقَالَ « إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ حَرَّمَ عَلَى الأَرْضِ أَجْسَادَ الأَنْبِيَاءِ ».
“Sesungguhnya diantara hari yang paling utama adalah hari jum’at; di hari tersebut Adam diciptakan dan dicabut nyawanya. Di hari itu terjadi tiupan sangkakala dan manusia jatuh tersungkur. Maka perbanyaklah bershalawat kepadaku pada hari tersebut, karena shalawat kalian akan ditampakkan kepadaku.” Mereka berkata, “Bagaimana akan ditampakkan kepadamu sementara engkau telah menjadi tulang belulang?” beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla mengharamkan atas bumi untuk memakan jasad para Nabi.” (HR Abu dawud).[9]
2. Setelah mendengarkan adzan.
Dari Abdullah bin Amru bin Al ‘Ash bahwa ia mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
إِذَا سَمِعْتُمُ الْمُؤَذِّنَ فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ ثُمَّ صَلُّوا عَلَىَّ فَإِنَّهُ مَنْ صَلَّى عَلَىَّ صَلاَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا
“Apabila kamu mendengar muadzin maka ucapkanlah seperti apa yang diucapkan oleh muadzin kemudian bershalawatlah kepadaku karena orang yang bershalawat kepadaku sekali maka Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali.” (HR Muslim).
3. Masuk masjid.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
إِذَا دَخَلَ أَحَدُكُمُ الْمَسْجِدَ فَلْيُصَلِّ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ وَ لْيَقُلْ : اللَّهُمَّ افْتَحْ لِيْ أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ وَ إِذَا خَرَجَ فَلْيُسَلِّمْ عَلَى النَّبِيِّ وَ لْيَقُلْ : اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ
“Apabila salah seorang dari kamu hendak masuk masjid, hendaklah ia bershalawat atas nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan mengucapkan: “Allahummaftahlii abwaaba rohmatika” (Ya Allah, bukakanlah untukku pintu rahmatMu). Dan apabila hendak keluar maka ucapkanlah: “Allahumma inni as-aluka min fadllika” (Ya Allah aku memohon karuniaMu).” (HR Ahmad dan Muslim dari Abu Humaid).[10]
4. Ketika berdo’a.
Karena do’a akan terhalang bila tidak bershalawat, sebagaimana dalam hadits lalu:
كُلُّ دُعَاءٍ مَحْجُوْبٌ حَتَّى يُصَلَّى عَلَى النَّبِيِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.
“Setiap do’a itu terhalang sampai bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.” (HR Ibnu Makhlad dari Ali bin Abi Thalib).[11]
5. Tasyahud awal dan akhir.
Berdasarkan hadits Abu Mas’ud Uqbah bin Amru:
أَقْبَلَ رَجُلٌ حَتَّى جَلَسَ بَيْنَ يَدَىْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَنَحْنُ عِنْدَهُ فَقَالَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ أَمَّا السَّلاَمُ عَلَيْكَ فَقَدْ عَرَفْنَاهُ ، فَكَيْفَ نُصَلِّى عَلَيْكَ إِذَا نَحْنُ صَلَّيْنَا عَلَيْكَ فِى صَلاَتِنَا صَلَّى اللَّهُ عَلَيْكَ. قَالَ : فَصَمَتَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- حَتَّى أَحْبَبْنَا أَنَّ الرَّجُلَ لَمْ يَسْأَلْهُ ثُمَّ قَالَ :« إِذَا أَنْتُمْ صَلَّيْتُمْ عَلَىَّ فَقُولُوا : اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ النَّبِىِّ الأُمِّىِّ ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ النَّبِىِّ الأُمِّىِّ ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ ».
“Ada seseorang datang lalu duduk di hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sementara kami berada di sisinya. Ia berkata, “Wahai Rasulullah, kami telah mengetahui cara mengucapkan salam kepada engkau. Lalu bagaimana kami bershalawat kepadamu apabila apabila kami hendak membaca shalawat di dalam sholat kami? Semoga Allah bershalawat kepadamu.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam diam hingga kami suka kalau ia tidak bertanya demikian. Kemudian beliau bersabda, “Apabila kalian bershalawat kepadaku maka ucapkanlah: “Allahumma sholli ‘alaa Muhammadin Nabiyyil Umiyy… Alhadits (Lihat matan di atas). (HR Ahmad, ibnu Khuzaimah dan lainnya, dan di hasankan oleh Ad Daroquthni dalam sunannya).[12]
6. Shalat jenazah.
Berdasarkan perkataan seorang shahabat:
أَنَّ السُّنَّةَ فِى الصَّلاَةِ عَلَى الْجَنَازَةِ أَنْ يُكَبِّرَ الإِمَامُ ، ثُمَّ يَقْرَأُ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ بَعْدَ التَّكْبِيرَةِ الأُولَى سِرًّا فِى نَفْسِهِ ، ثُمَّ يُصَلِّى عَلَى النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- وَيُخْلِصُ الدُّعَاءَ لِلْجَنَازَةِ فِى التَّكْبِيرَاتِ لاَ يَقْرَأُ فِى شَىْءٍ مِنْهُنَّ ، ثُمَّ يُسَلِّمُ سِرًّا فِى نَفْسِهِ.
“Yang sunnah di dalam shalat janazah adalah imam bertakbir kemudian membaca al fatihah setelah takbir yang pertama secara pelan pada dirinya. Kemudian bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan mengikhlaskan do’a untuk jenazah pada takbir-takbir selanjutnya dan tidak membaca apa-apa. Kemudian mengucapkan salam secara pelan pada dirinya.” (HR Asy Syafi’i).[13]
7. Dalam khutbah.
Ibnu Qayyim dalam kitabnya Jalaa-ul afhaam (hal 526) setelah menyebutkan atsar-atsar dari shahabat berkata, “Ini menunjukkan bahwa bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihoi wasallam dalam khutbah adalah perkara yang masyhur di kalangan para shahabat.”
8. Dalam majelis.
Berdasarkan hadits yang telah berlalu:
مَا قَعَدَ قَوْمٌ مَقْعَدًا لاَ يَذْكُرُونَ فِيهِ اللَّهَ , عَزَّ وَجَلَّ , وَيُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى الله عَلَيه وسَلَّم إِلاَّ كَانَ عَلَيْهِمْ حَسْرَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ ، وَإِنْ دَخَلُوا الْجَنَّةَ لِلثَّوَابِ
“Tidaklah suatu kaum duduk dan tidak mengingat Allah Azza wa jalla dan tidak bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kecuali akan menjadi penyesalan bagi mereka pada hari kiamat, walaupun mereka masuk surga karena pahala.” (HR Ahmad dan Ibnu Hibban dari Abu Hurairah).[14]
9. Ketika disebut nama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.
Ini berdasarkan hadits yang telah kita sebutkan sebelumnya:
شَقِيَ عَبْدٌ ذُكِرْتَ عِنْدَهُ وَلَمْ يُصَلِّ عَلَيْكَ فَقُلْتُ آمِيْنَ
“Semoga celaka seorang hamba yang namamu disebut di sisinya namun ia tidak bershalawat kepadamu.” Beliau bersabda, “Amiin.” (HR Al Bukhari dalam kitab Al Adabul Mufrod).[15]
Bahkan beliau menganggapnya sebagai orang yang bakhil.
الْبَخِيلَ مَنْ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيَّ.
“Orang bakhil adalah orang yang apabila disebutkan namaku di sisinya, ia tidak bershalawat kepadaku.” (HR An Nasai, At Tirmidzi dan lainnya).[16]
10. Disela-sela takbir dalam shalat ‘ied.
Dari ‘Alqamah bahwa Al Walid bin Uqbah keluar menuju Abdullah bin Mas’ud, Abu Musa dan Hudzaifah, ia berkata, “Sesungguhnya hari ‘ied telah dekat, bagaimana cara bertakbir padanya?” Abdullah bin Mas’ud berkata: “Mulailah dengan bertakbir sebagai pembuka shalatmu, lalu pujilah Rabbmu dan bershalawat kepada Nabi Muhammad. Kemudian kamu berdo’a dan bertakbir dan kamu lakukan lagi seperti tadi.. dan diakhir kisah tersebut disebutkan bahwa Abu Musa dan hudzaifah membenarkannya. (HR Al Baihaqi dalam sunannya 3/291).[17]
Walaupun ini adalah perkataan ibnu Mas’ud, namun disetujui oleh shahabat lainnya dan tidak diketahui adanya shahabat lain yang menyelisihi beliau. Oleh karena itu imam Al baihaqi setelah menyebutkan atsar tersebut berkata, “Ini adalah mauquf dari perkataan ibnu Mas’ud, namun kita mengikuti beliau dalam berdzikir di sela-sela takbir karena tidak ada riwayat dari shahabat lain yang menyelisihi beliau. Tetapi kita menyelisihi ibnu Mas’ud dalam jumlah takbir berdasarkan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan perbuatan penduduk makkah dan Madinah dan amalan kaum muslimin sampai hari ini.”[18]
[1] Dishahihkan oleh Syaikh Al AlBani dalam Shahih Jami’ non 57.
[2] Al Adabul Mufrod 1/224 no 644.
[3] Dishahihkan oleh Syaikh Al AlBani dalam Shahih Jami’ no 5189.
[4] Dihasankan oleh Syaikh Al Albani dalam silsilah shahihah no 954.
[5] Syaikh Al Albani berkata, “Shahih.” Lihat silsilah shahihah no 76.
[6] Dihasankan oleh Syaikh Al AlBani dalam silsilah shahihah no 2035.
[7] Lihat shahih Sunan Abi Dawud no 1331.
[8] Lihat sifat sholat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam hal 165-167 karya Syaikh Al AlBani.
[9] Sunan Abu Dawud (1/562 no 1533). Dishahihkan oleh Syaikh Al bani dalam Shahih Sunan Abu Dawud no 962.
[10] Shahih jami’ no 516.
[11] Dihasankan oleh Syaikh Al AlBani dalam silsilah shahihah no 2035.
[12] Lihat kitab Jalaa-ul Afhaam karya ibnu Qayyim hal 67 tahqiq Syaikh Masyhur Alu Salman.
[13] Asy Syafi’i dalam Al Umm (1/270). Namun di dalam sanadnya terdapat Mutharif bin Mazin, ia dianggap pendusta oleh Yahya bin Ma’in. Namun ibnul Jarud meriwayatkan dari jalan Abdrurrazzaq dari Ma’mar dari Az Zuhri dari Abu Umamah bin Sahl bin Hanif. Ini adalah sanad hyang shahih. Oleh karena itu Syaikh Al AlBani menshahihkannya dalam irwa-ul ghalil no 734.
[14] Syaikh Al Albani berkata, “Shahih.” Lihat silsilah shahihah no 76.
[15] Al Adabul Mufrod 1/224 no 644.
[16] Dishahihkan oleh Syaikh Al AlBani dalam Shahih Jami’ no 5189.
[17] Dihasankan oleh Syaikh Al Bani dalam shahih sunan Abi Dawud. Syaikh Masyhur berkata dalam tahqiq jalaa-ul afhaam (hal 228), “Sanadnya shahih, dan dishahihkan oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya dan As Sakhawi dalam Al Qoulul Badie’.
[18] Al Baihaqi, Sunan Kubro 3/291.
Tag :
Mutiara Hadis,
Sunnah Sunnah Yang Terlupakan
Tidaklah Islam itu kecuali kumpulan dari sunnah-sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika semua sunnah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam baik aqidah, ibadah, akhlak, ucapan, perbuatan ataupun ketetapannya dikumpulkan (dilaksanakan) maka akan tergambarlah Islam yang sempurna. Sebaliknya ketika ummat Islam meninggalkan sunnah-sunnah beliau sedikit demi sedikit berarti Islam akan hilang sedikit demi sedikit. Sebagaimana dikatakan oleh ‘Abdullah Ad-Dailamiy, “Sesungguhnya pertama kali hilangnya agama (Islam) adalah dengan ditinggalkannya sunnah. Agama ini akan hilang sesunnah demi sesunnah sebagaimana lepasnya tali seutas demi seutas.” (Al-Lalika`iy 1/93 no.127, Ad-Darimiy 1/58 no.97 dan Ibnu Wadhdhah di dalam Al-Bida’ wan Nahyu ‘anha:73, lihat Lammud Duril Mantsuur minal Qaulil Ma`tsuur hal.21)
Karena itulah selayaknya bagi kita ummat Islam menghidupkan sunnah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam yang merupakan Islam itu sendiri. Dalam rangka menjaga sunnah agar tetap dikenal dan diamalkan di tengah-tengah masyarakat, yang dengannya Islam tetap eksis.
Walaupun tidak mungkin bagi kita untuk mengamalkan seluruh sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam secara utuh. Dikarenakan kelemahan yang ada pada diri kita. Akan tetapi yang diharapkan dan dituntut dari kita adalah kesemangatan dan upaya yang kuat untuk melaksanakannya. Meskipun amalan tersebut hukumnya mustahab/tidak wajib, tetap jangan sampai ditinggalkan. Semaksimal mungkin kita berusaha mengamalkannya dengan meminta pertolongan kepada Allah. Karena yang namanya mustahab itu bukan berarti untuk ditinggalkan akan tetapi dianjurkan untuk diamalkan.
Ada beberapa sunnah yang berupa do’a ataupun amalan yang mulai dilupakan oleh sebagian kaum muslimin. Atau terlupakan oleh mereka dikarenakan kesibukan yang terus-menerus membebani mereka. Seolah-olah mereka tidak ada waktu untuk mempelajari sunnah dan mengamalkannya.
Sebenarnya mereka mempunyai waktu untuk itu sebagaimana mereka punya waktu untuk dunia. Akan tetapi permasalahannya adalah kurangnya niat dan semangat mereka untuk mempelajari dan mengamalkan agamanya. Untuk itulah diperlukannya nasehat-menasehati antara yang satu dengan lainnya. Yang ingat mengingatkan kepada yang lalai. Dan yang mengetahui memberitahukan kepada yang tidak mengetahui. Sehingga terbentuklah masyarakat yang Islami.
Di antara sunnah-sunnah yang diajarkan oleh Rasulullah adalah berdo’a. Di dalam berbagai kegiatan yang kita lakukan, disunnahkan bagi kita untuk membaca do’a/dzikir padanya. Di antaranya adalah:
1. Do’a Memakai Baju/Pakaian
Kaum muslimin, rahimakumullaah. Hendaklah setiap kali kita memakai baju, baik gamis, baju koko, jaket, kaos ataupun jenis baju lainnya, kita membaca:
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ كَسَانِيْ هَذَا (الثَّوْبَ) وَرَزَقَنِيْهِ مِنْ غَيْرِ حَوْلٍ مِنِّيْ وَلاَ قُوَّةٍ
“Segala puji bagi Allah yang telah memakaikan kepadaku pakaian ini dan yang telah memberikan rizki pakaian ini kepadaku tanpa ada daya dan kekuatan dariku.” (HR. Abu Dawud, At-Tirmidziy dan Ibnu Majah, lihat Irwaa`ul Ghaliil 7/47)
2. Do’a Memakai Baju Baru
Ketika kita memakai baju/pakaian yang baru maka disunnahkan untuk membaca:
اللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ كَسَوْتَنِيْهِ، أَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِهِ وَخَيْرِ مَا صُنِعَ لَهُ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّهِ وَشَرِّ مَا صُنِعَ لَهُ
“Ya Allah, segala puji hanya untuk-Mu. Engkau telah memakaikan pakaian ini kepadaku. Aku meminta kepada-Mu akan kebaikannya dan kebaikan yang dibuat untuknya. Dan aku berlindung kepada-Mu dari kejelekannya dan kejelekan yang dibuat untuknya.” (HR. Abu Dawud, At-Tirmidziy dan Al-Baghawiy, lihat Mukhtashar Syamaa`il At-Tirmidziy karya Asy-Syaikh Al-Albaniy hal.47)
Kita meminta kepada Allah kebaikan pakaian dikarenakan pakaian itu bisa digunakan sebagai sarana untuk beribadah kepada-Nya. Sebaliknya kita meminta perlindungan dari kejelekannya karena pakaian itu bisa menjadi sebab berbuat durhaka kepada-Nya seperti adanya perasaan ‘ujub, sombong dan sejenisnya.
3. Mendo’akan Orang yang Memakai Baju Baru
Apabila kita melihat orang lain, saudara ataupun teman kita memakai baju baru, maka disunnahkan bagi kita untuk mendo’akannya. Adapun do’anya adalah:
تُبْلِي وَيُخْلِفُ اللهُ تَعَالَى
“Semoga berumur panjang, dipakai sampai usang dan diganti dengan yang lebih baik oleh Allah Ta’ala.” (HR. Abu Dawud 4/41, lihat Shahih Abu Dawud 2/760)
Atau membaca:
اِلْبَسْ جَدِيْدًا، وَعِشْ حَمِيْدًا، وَمُتْ شَهِيْدًا
“Pakailah (pakaian) yang baru, hiduplah dengan terpuji, dan matilah sebagai orang yang syahid.” (HR. Ibnu Majah 2/1178 dan Al-Baghawiy 12/41, lihat Shahih Ibnu Majah 2/275)
4. Do’a ketika Melepas Baju
Apabila kita melepas baju/pakaian, hendaklah kita membaca:
بِسْمِ اللهِ
“Dengan nama Allah.” (HR. At-Tirmidziy 2/505 dan lainnya, lihat Irwaa`ul Ghaliil no.49 dan Shahiihul Jaami’ 3/203)
5. Do’a Masuk WC
Do’a masuk WC atau kamar mandi dan tempat-tempat sejenisnya dibaca sebelum masuk. Karena kita dilarang membaca Al-Qur`an, berdzikir, berdo’a atau membaca Asma`ul Husna di tempat yang kotor dan najis seperti WC.
Apabila kita akan masuk WC atau kamar mandi, maka ucapkanlah:
[بِسْمِ اللهِ] اللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْخُبُثِ وَالْخَبَائِثِ
“Dengan nama Allah. Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari (gangguan) syaithan laki-laki dan syaithan perempuan.” (HR. Al-Bukhariy 1/45 dan Muslim 1/283, dan tambahan basmalah di awalnya, itu diriwayatkan oleh Sa’id bin Manshur, lihat Fathul Baari 1/244)
6. Do’a Keluar dari WC
Apabila kita telah keluar dari WC atau kamar mandi, maka disunnahkan untuk membaca:
غُفْرَانَكَ
“(Aku memohon) ampunan-Mu.” (HR. Abu Dawud, At-Tirmidziy dan Ibnu Majah, An-Nasa`iy di dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah, lihat takhrij Zaadul Ma’aad 2/387)
7. Dzikir Sebelum Wudhu`
Apabila kita mau berwudhu` maka bacalah:
بِسْمِ اللهِ
“Dengan nama Allah.” (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah dan Ahmad, lihat Irwaa`ul Ghaliil 1/122)
8. Dzikir Setelah Selesai Wudhu`
Apabila selesai dari wudhu` maka disunnahkan bagi kita untuk membaca:
أَشْهَدُ أَنْ لاَّ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
“Aku bersaksi bahwasanya tidak ada tuhan yang berhak diibadahi kecuali Allah satu-satu-Nya, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwasanya Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.” (HR. Muslim 1/209)
Atau ditambah dengan membaca:
اللَّّهُمَّ اجْعَلْنِيْ مِنَ التَّوَّابِيْنَ وَاجْعَلْنِيْ مِنَ الْمُتَطَهِّرِيْنَ
“Ya Allah, jadikanlah aku termasuk orang-orang yang bertaubat dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang selalu bersuci.” (HR. At-Tirmidziy 1/78, lihat Shahih At-Tirmidziy 1/18)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan keutamaannya, “Tidaklah salah seorang dari kalian berwudhu` lalu menyempurnakan wudhu`nya kemudian mengucapkan, “Aku bersaksi … .” kecuali akan dibukakan untuknya delapan pintu surga, dia akan masuk dari pintu manapun yang dia sukai.” (HR. Muslim 1/209)
9. Dzikir Keluar dari Rumah
Apabila kita keluar dari rumah maka disunnahkan untuk membaca:
بِسْمِ اللهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللهِ، وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ
“Dengan nama Allah, aku hanya bertawakkal kepada Allah. Dan tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.” (HR. Abu Dawud 4/325 dan At-Tirmidziy 5/490, lihat Shahih At-Tirmidziy 3/151)
اللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ أَنْ أَضِلَّ أَوْ أُضَلَّ، أَوْ أَزِلَّ أَوْ أُزَلَّ، أَوْ أَظْلِمَ أَوْ أُظْلَمَ، أَوْ أَجْهَلَ أَوْ يُجْهَلَ عَلَيْهِ
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu (jangan sampai) aku tersesat atau disesatkan, tergelincir atau digelincirkan, berbuat zhalim atau dizhalimi, berbuat kebodohan atau dibodohi.” (HR. Ash-haabus Sunan, lihat Shahih At-Tirmidziy 3/152 dan Shahih Ibnu Majah 2/336)
10. Dzikir Masuk Rumah
Berkata Al-Imam An-Nawawiy, “Disukai bagi seseorang apabila masuk ke rumahnya untuk mengucapkan bismillaah dan memperbanyak berdzikir kepada Allah serta mengucapkan salam. Sama saja, apakah di rumah ada orang ataupun tidak.”
Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala,
فَإِذَا دَخَلْتُمْ بُيُوتًا فَسَلِّمُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ تَحِيَّةً مِنْ عِنْدِ اللَّهِ مُبَارَكَةً طَيِّبَةً
“Maka apabila kalian memasuki (suatu rumah dari) rumah-rumah (ini), hendaklah kalian memberi salam kepada (penghuninya yang berarti memberi salam) kepada diri kalian sendiri, salam yang ditetapkan dari sisi Allah, yang diberi berkah lagi baik.” (An-Nuur:61)
Dan berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, “Wahai anakku! Apabila kamu masuk ke keluargamu maka ucapkanlah salam! Yang akan menjadi berkah bagimu dan bagi keluargamu.” (HR. At-Tirmidziy no.2841, hadits hasan dengan syawahidnya, lihat Shahih Kitab Al-Adzkaar wa Dha’iifuh 1/101)
Demikian juga sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Apabila seseorang masuk ke rumahnya, lalu berdzikir kepada Allah (menyebut nama Allah) ketika memasukinya dan ketika makan, maka berkatalah syaithan, “Tidak ada tempat menginap (bermalam) bagi kalian (yakni teman-temannya dari bangsa jin-pent.) dan tidak ada makan malam.” Dan apabila dia masuk (ke rumahnya) lalu tidak menyebut nama Allah ketika memasukinya, maka berkatalah syaithan, “Kalian mendapatkan tempat menginap.” Dan apabila dia tidak menyebut nama Allah ketika makan, maka berkatalah syaithan, “Kalian mendapatkan tempat menginap dan makan malam.” (HR. Muslim no.2018 dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu)
Adapun do’a masuk rumah dengan lafazh, “Bismillaahi Walajnaa wa Billaahi Kharajnaa, … .” maka ini adalah hadits dha’if sebagaimana dikatakan oleh Asy-Syaikh Al-Albaniy dan Asy-Syaikh Salim. Lihat Shahih Kitab Al-Adzkaar wa Dha’iifuh 1/101-103.
11. Do’a Masuk Masjid
Apabila masuk masjid, maka kita disunnahkan untuk membaca shalawat dan salam kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam serta membaca do’a. Bacaannya sebagai berikut:
أَعُوْذُ بِاللهِ الْعَظِيْمِ وَبِوَجْهِهِ الْكَرِيْمِ وَسُلْطَانِهِ الْقَدِيْمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ
“Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Agung dan dengan Wajah-Nya Yang Maha Mulia serta dengan Kekuasaan-Nya Yang Abadi dari (gangguan) syaithan yang terkutuk.” (HR. Abu Dawud, lihat Shahiihul Jaami’ no.4591)
بِسْمِ اللهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ، اللَّهُمَّ افْتَحْ لِيْ أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ
“Dengan nama Allah, semoga shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ya Allah, bukakanlah untukku pintu-pintu rahmat-Mu.” (HR. Ibnus Sunniy no.88, Abu Dawud 1/126 dan Muslim 1/494)
12. Do’a Keluar dari Masjid
Apabila keluar dari masjid hendaklah kita mengucapkan:
بِسْمِ اللهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ، اللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ، اللَّهُمَّ اعْصِمْنِيْ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ
“Dengan nama Allah, semoga shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu akan karunia-Mu. Ya Allah, peliharalah aku dari (gangguan) syaithan yang terkutuk.” (Lihat keterangan do’a no.11, lafazh do’a terakhir dikeluarkan oleh Ibnu Majah, lihat Shahih Ibnu Majah 1/129)
13. Dzikir-Dzikir Adzan
(1). Membaca seperti apa yang diucapkan muadzdzin kecuali pada kalimat “hayya ‘alash shalaah” dan “hayya ‘alal falaah” maka mengucapkan:
لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ.
(HR. Al-Bukhariy 1/152 dan Muslim 1/288)
(2). Mengucapkan:
وَأَنَا أَشْهَدُ أَنْ لاَّ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، رَضِيْتُ بِاللهِ رَبًّا، وَبِمُحَمَّدٍ رَسُوْلاً، وَبِالإِسْلاَمِ دِيْنًا
“Aku bersaksi bahwa tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan bahwasanya Muhammad itu adalah hamba dan utusan-Nya. Aku ridha Allah sebagai Rabb, aku ridha Muhammad sebagai Rasul dan aku ridha Islam sebagai agamaku.” (HR. Muslim 1/290)
Dzikir ini diucapkan setelah muadzdzin mengucapkan tasyahhud (dua kalimat syahadat: asyhadu allaa ilaaha illallaah, asyhadu anna muhammadar rasuulullaah). (HR. Ibnu Khuzaimah 1/220)
(3). Bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam setelah selesai menjawab adzan (yakni setelah muadzdzin selesai adzan). (HR. Muslim 1/288)
(4). Berdo’a setelah selesai menjawab adzan:
اللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ، وَالصَّلاَةِ الْقَائِمَةِ، آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيْلَةَ وَالْفَضِيْلَةَ، وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُوْدًا الَّذِيْ وَعَدْتَهُ
“Ya Allah, Rabb Pemilik seruan yang sempurna ini dan Rabb shalat yang ditegakkan ini. Berilah kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam wasilah (kedudukan dan derajat yang mulia) dan keutamaan, dan bangkitkanlah dia pada kedudukan yang terpuji yang telah Engkau janjikan kepadanya.”
Tentang keutamaannya maka disebutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Barangsiapa yang mengucapkan do’a ini ketika (selesai) mendengar adzan, maka halal baginya syafa’atku pada hari kiamat“. (HR. Al-Bukhariy 1/152 no.614)
Suatu keutamaan yang besar! Selayaknya bagi kita untuk tidak melewatkannya. Ketika mendengar seruan adzan maka konsentrasikanlah untuk menjawabnya. Jangan tersibukkan oleh urusan lain kecuali urusan yang sifatnya darurat. Setelah selesai adzan, berdo’alah dengan do’a tersebut, niscaya di hari kiamat kita akan mendapatkan syafa’atnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Disebutkan bahwa salah seorang ‘ulama besar abad ini sedang menerima telepon. Ketika terdengar seruan adzan, beliau rahimahullah mengatakan kepada sang penelpon, “Maaf, saya akan menjawab adzan dulu, nanti pembicaraannya dilanjutkan lagi.”
Suatu tauladan yang mulia yang patut untuk ditiru.
Adapun tambahan “innaka laa tukhliful mii’aad” adalah tambahan yang syaadz (menyelisihi hadits yang lebih shahih), lihat Al-Kalimuth Thayyib dengan takhrijnya oleh Asy-Syaikh Al-Albaniy dan lainnya.
(5). Berdo’a untuk dirinya antara adzan dan iqamah, karena sesungguhnya berdo’a ketika itu tidak akan ditolak. (HR. Abu Dawud, At-Tirmidziy dan Ahmad, lihat Irwaa`ul Ghaliil 1/262)
14. Dzikir-Dzikir Menjelang Tidur
(1). Mengumpulkan kedua telapak tangannya kemudian meniup keduanya lalu membaca surat Al-Ikhlaash, Al-Falaq dan An-Naas. Kemudian mengusap badannya semampunya dengan kedua tangannya, dimulai dari kepalanya, wajahnya dan bagian depan dari badannya. Hal ini dilakukan tiga kali. (HR. Al-Bukhariy bersama Fathul Baarii 9/62 dan Muslim 4/1723)
(2). Membaca ayat kursi. Barangsiapa yang membacanya ketika dia merebahkan dirinya di tempat tidurnya maka sesungguhnya akan senantiasa ada baginya dari sisi Allah yang akan menjaganya dan syaithan tidak akan mendekatinya sampai subuh. (HR. Al-Bukhariy bersama Fathul Baarii 4/487)
(3). Membaca surat Al-Baqarah:285-286 (dua ayat terakhir). Barangsiapa yang membaca dua ayat ini pada malam hari maka dua ayat ini akan mencukupinya. (HR. Al-Bukhariy bersama Fathul Baarii 9/94 dan Muslim 1/554)
(4). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila salah seorang dari kalian bangkit dari tempat tidurnya kemudian kembali lagi maka kibasilah (bersihkanlah) tempat tidurnya tersebut dengan ujung kain/sarungnya tiga kali dan sebutlah nama Allah. Karena sesungguhnya dia tidak tahu apa yang menggantinya setelah dia meninggalkannya. Dan apabila dia berbaring (hendak tidur) maka ucapkanlah:
بِاسْمِكَ رَبِّيْ وَضَعْتُ جَنْبِيْ، وَبِكَ أَرْفَعُهُ، فَإِنْ أَمْسَكْتَ نَفْسِيْ فَارْحَمْهَا، وَإِنْ أَرْسَلْتَهَا فَاحْفَظْهَا بِمَا تَحْفَظُ بِهِ عِبَادَكَ الصَّالِحِيْنَ
“Dengan nama-Mu, Ya Tuhanku, aku meletakkan lambungku, dan dengan nama-Mu pula aku mengangkatnya. Maka jika Engkau menahan jiwaku (ruhku) maka rahmatilah dia. Dan jika Engkau melepaskannya maka jagalah dia dengan sesuatu yang Engkau jaga dengannya hamba-hamba-Mu yang shalih.” (HR. Al-Bukhariy 11/126 dan Muslim 4/2084)
(5). Membaca:
اللَّهُمَّ إِنَّكَ خَلَقْتَ نَفْسِيْ وَأَنْتَ تَوَفَّاهَا، لَكَ مَمَاتُهَا وَمَحْيَاهَا، إِنْ أَحْيَيْتَهَا فَاحْفَظْهَا، وَإِنْ أَمَتَّهَا فَاغْفِرْ لَهَا، اللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الْعَافِيَةَ
“Ya Allah, sesungguhnya Engkau telah menciptakan jiwaku (ruhku) dan Engkaulah yang mewafatkannya. Milik Engkaulah mati dan hidupnya. Jika Engkau menghidupkannya maka jagalah dia dan jika Engkau mematikannya maka ampunilah dia. Ya Allah, sesungguhnya aku meminta kepada-Mu keselamatan.” (HR. Muslim 4/2083 dan Ahmad 2/79, dan lafazh hadits ini miliknya)
(6). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila ingin tidur maka beliau meletakkan tangan kanannya di bawah pipi kanannya kemudian membaca:
اللَّهُمَّ قِنِيْ عَذَابَكَ يَوْمَ تَبْعَثُ عِبَادَكَ
“Ya Allah, lindungilah aku dari ‘adzab-Mu pada hari Engkau membangkitkan hamba-hamba-Mu.” Dibaca tiga kali. (HR. Abu Dawud 4/311 dan ini lafazhnya, lihat Shahih At-Tirmidziy 3/143)
(7). Membaca:
بِاسْمِكَ اللَّهُمَّ أَمُوْتُ وَأَحْيَا
“Dengan nama-Mu, Ya Allah, aku mati dan aku hidup.” (HR. Al-Bukhariy bersama Fathul Baarii 11/113 dan Muslim 4/2083)
(8). Membaca Subhaanallaah 33x, Alhamdulillaah 33x dan Allaahu Akbar 34x. Barangsiapa yang mengucapkannya ketika merebahkan diri di tempat tidurnya maka hal ini lebih baik baginya daripada seorang pembantu. (HR. Al-Bukhariy bersama Fathul Baarii 7/71 dan Muslim 4/2091)
(9). Membaca:
اللَّهُمَّ رَبَّ السَّمَوَاتِ السَّبْعِ وَرَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِ، رَبَّنَا وَرَبَّ كُلِّ شَيْءٍ، فَالِقَ الْحَبِّ وَالنَّوَى، وَمُنْزِلَ التَّوْرَاةِ وَالإِنْجِيْلِ وَالْفُرْقَانِ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ كُلِّ شَيْءٍ، أَنْتَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهِ اللَّهُمَّ أَنْتَ الأَوَّلُ فَلَيْسَ قَبْلَكَ شَيْء، وَأَنْتَ الآخِرُ فَلَيْسَ بَعْدَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الظَّاهِرُ فَلَيْسَ فَوْقَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الْبَاطِنُ فَلَيْسَ دُوْنَكَ شَيْءٌ، اِقْضِ عَنَّا الدَّيْنَ وَأَغْنِنَا مِنَ الْفَقْرِ
“Ya Allah, Rabbnya langit yang tujuh dan Rabbnya ‘arsy yang agung. Rabb kami dan Rabbnya segala sesuatu, Yang membelah biji-bijian dan biji kurma. Yang menurunkan Taurat, Injil dan Al-Qur`an. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan segala sesuatu. Engkaulah Yang memegang ubun-ubunnya. Ya Allah, Engkaulah Yang Awwal maka tidak ada sesuatu pun yang sebelum-Mu. Dan Engkaulah Yang Akhir maka tidak ada sesuatu pun yang setelah-Mu. Dan Engkaulah Yang Zhahir (Maha Tinggi) maka tidak ada sesuatu pun yang ada di atas-Mu. Dan Engkaulah Yang Bathin (Maha Dekat) maka tidak ada sesuatu pun yang lebih dekat daripada-Mu. (Ya Tuhanku) lunasilah hutang kami dan cukupilah kami dari kemiskinan.” (HR. Muslim 4/2084)
(10). Membaca:
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَطْعَمَنَا وَسَقَانَا، وَكَفَانَا، وَآوَانَا، فَكَمْ مِمَّنْ لاَ كَافِيَ لَهُ وَلاَ مُؤْوِيَ
“Segala puji hanya bagi Allah yang telah memberi kami makan, dan yang telah memberi kami minum, yang telah mencukupkan kami dan yang telah melindungi kami. Karena berapa banyak orang yang tidak mempunyai yang mencukupinya dan yang melindunginya.” (HR. Muslim 4/2085)
(11). Membaca:
اللَّهُمَّ عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَاطِرَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ، رَبَّ كُلِّ شَيْءٍ وَمَلِيْكَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَّ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ نَفْسِيْ، وَمِنْ شَرِّ الشَّيْطَانِ وَشِرْكِهِ، وَأَنْ أَقْتَرِفَ عَلَى نَفْسِيْ سُوْءًا، أَوْ أَجُرَّهُ إِلَى مُسْلِمٍ
“Ya Allah, Yang mengetahui perkara ghaib dan yang nampak, Pencipta langit dan bumi, Rabbnya segala sesuatu dan Yang memilikinya. Aku bersaksi bahwasanya tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Engkau. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan diriku dan dari kejahatan syaithan dan sekutunya. Dan jangan sampai aku menjerumuskan diriku ke dalam kejelekan atau menimpakannya kepada seorang muslim.” (HR. Abu Dawud 4/317 dan At-Tirmidziy, lihat Shahih At-Tirmidziy 3/142)
(12). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika kamu ingin pergi ke tempat tidur maka berwudhu`lah sebagaimana kamu berwudhu` untuk shalat. Kemudian berbaringlah di sebelah sisimu yang kanan lalu ucapkanlah:
اللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ نَفْسِيْ إِلَيْكَ، وَفَوَّضْتُ أَمْرِيْ إِلَيْكَ، وَوَجَّهْتُ وَجْهِيْ إِلَيْكَ، وَأَلْجَأْتُ ظَهْرِيْ إِلَيْكَ، رَغْبَةً وَرَهْبَةً إِلَيْكَ، لاَ مَلْجَأَ وَلاَ مَنْجَا مِنْكَ إِلاَّ إٍلَيْكَ، آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِيْ أَنْزَلْتَ وَبِنَبِيِّكَ الَّذِيْ أَرْسَلْتَ
“Ya Allah, aku menyerahkan diriku kepada-Mu dan aku memasrahkan urusanku kepada-Mu. Dan aku hadapkan wajahku kepada-Mu dan aku sandarkan punggungku kepada-Mu, dalam keadaan harap dan cemas hanya kepada-Mu. Tidak ada tempat berlindung dan menyelamatkan diri dari (siksa)Mu kecuali hanya kepada-Mu. Aku beriman kepada kitab-Mu yang telah Engkau turunkan dan (aku beriman) kepada Nabi-Mu yang telah Engkau utus.”
Rasulullah menyatakan kepada orang yang mengucapkan do’a ini: “Jika kamu mati maka kamu mati di atas fithrah (Islam).” (HR. Al-Bukhariy bersama Fathul Baarii 11/113 dan Muslim 4/2081)
(13). Membaca surat As-Sajdah dan Al-Mulk. (HR. At-Tirmidziy dan An-Nasa`iy, lihat Shahiihul Jaami’ 4/255)
Do’a-do’a menjelang tidur ini jika tidak mampu dibaca semua maka bacalah semampunya.
15. Do’a ketika Berbolak-balik (di Pembaringan) di Malam Hari
Ketika kita sedang tidur di malam hari kemudian badan kita berbolak-balik ke kanan dan ke kiri, maka hendaklah kita mengucapkan:
لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ، رَبُّ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا الْعَزِيْزُ الْغَفَّارُ
“Tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Allah, Yang Esa lagi Maha Perkasa. Rabbnya langit dan bumi serta semua yang ada di antara keduanya, Dzat Yang Maha Mulia lagi Maha Pengampun.” (HR. Al-Hakim, lihat Shahiihul Jaami’ 4/213)
16. Do’a ketika Tersentak dalam Tidur dan Orang yang Dihinggapi Rasa Kesepian
Hendaklah dia membaca:
أَعُوْذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ مِنْ غَضَبِهِ وَعِقَابِهِ وَشَرِّ عِبَادِهِ وَمِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاطِيْنِ وَأَنْ يَحْضُرُوْنَ
“Aku berlindung dengan kalimat (firman) Allah yang sempurna dari kemurkaan dan siksaan-Nya serta dari kejahatan hamba-hamba-Nya dan dari bisikan-bisikan syaithan, serta apabila mereka datang (yakni berlindung dari kedatangan mereka dari kalangan syaithan).” (HR. Abu Dawud 4/12, lihat Shahih At-Tirmidziy 3/171
17. Amalan dan Do’a ketika Melihat Mimpi Buruk dan Mimpi Kosong(Mimpi yang Tidak Bisa Ditafsirkan)
(1). Hendaklah dia meludah ringan ke arah kirinya tiga kali. Berlindung kepada Allah dari godaan syaithan dan (berlindung) dari kejelekan apa yang dilihatnya, tiga kali. (HR. Muslim 4/1772, 1773)
(2). Tidak menceritakannya kepada siapapun. (HR. Muslim 4/1772)
(3). Mengubah/Berpindah dari posisi tidur sebelumnya. (HR. Muslim 4/1773)
(4). Hendaklah dia bangkit untuk melakukan shalat kalau dia mau. (HR. Muslim 4/1773)
18. Dzikir-Dzikir ketika Bangun Tidur
Ketika bangun tidur hendaklah kita membaca:
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُوْرُ
“Segala puji hanya bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah mematikan kami, dan hanya kepada-Nya (kami) dikumpulkan.” (HR. Al-Bukhariy bersama Fathul Baarii 11/113 dan Muslim 4/2083
لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ. سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ، رَبِّ اغْفِرْلِيْ
“Tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Allah satu-satu-Nya, tidak ada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya kerajaan dan milik-Nya segala puji dan Dia Maka Kuasa atas segala sesuatu. Maha Suci Allah, dan segala puji hanya milik Allah, dan tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Allah, dan Allah Maha Besar. Dan tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung. Ya Tuhanku, ampunilah aku.”
Siapa yang mengucapkannya maka akan diampuni (dosa-dosanya), dan jika berdo’a maka akan dikabulkan dan jika dia bangkit lalu berwudhu` kemudian shalat maka akan diterima shalatnya. (HR. Al-Bukhariy bersama Fathul Baarii 3/39 dan lainnya)
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ عَافَانِيْ فِيْ جَسَدِيْ وَرَدَّ عَلَيَّ رُوْحِيْ وَأَذِنَ لِيْ بِذِكْرِهِ
“Segala puji hanya bagi Allah yang telah memberi keselamatan kepadaku dalam jasadku dan yang telah mengembalikan ruhku kepadaku dan yang telah mengizinkanku untuk berdzikir/mengingat-Nya.” (HR. At-Tirmidziy 5/473, lihat Shahih At-Tirmidziy 3/144)
Dan membaca surat Aali ‘Imraan:190-200. (HR. Al-Bukhariy bersama Fathul Baarii 8/237 dan Muslim 1/530)
Semoga Allah selalu membimbing kita ke jalan yang lurus. Aamiin. Wallaahu A’lam.
Maraaji’: Hishnul Muslim min Adzkaaril Kitaab was Sunnah karya Asy-Syaikh Sa’id bin ‘Ali bin Wahf Al-Qahthaniy, Buluughul Maraam dan Al-Kalimuth Thayyib.
Dikutip dari http://fdawj.co.nr/, Penulis: Buletin Dakwah Al Wala’ Wal Bara’ Bandung. Judul : Sunnah-Sunnah yang Terlupakan 1&2.
Diarsipkan pada: http://qurandansunnah.wordpress.com/
Tag :
Adab Dan Akhlak,
Mutiara Hadis,


